perjalanan yang g mungkin bisa dilupain

Nama : Rachmawati Nur Fitriana

Nrp :G84100041

Laskar : 26 (Laskar Munir)

12 April 1992, pertama kali saya menghirup udara di dunia ini. Sejak kecil saya sudah diajarkan untuk menjadi orang yang tegas dan mandiri. Mulai dari hal-hal yang sederhana sampai dengan hal-hal yang besar. Semenjak SMP saya memang harus lebih mandiri dalam hal belajar, karena tidak ada lagi yang bisa banyak membantu saya dalam hal belajar. Bapak seorang staf kecamatan, sementara ibu seorang guru SD. Tetapi alhamdulillah, usaha serta kerja keras yang diiringi dengan doa selalu membuahkan hasil. Saya selalu mendapatkan peringkat di sekolah, hingga akhirnya saya dipilih untuk mewakili sekolah dalam lomba siswa teladan tingkat Kabupaten. Hasilnya saya mendapatkan juara pertama, sehingga mewakili kabupaten ke tingkat provinsi. Semenjak saat itu kepercayaan orang tua kepada saya semakin kuat. Dengan begitu saya juga  berusaha menjaga amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Setamat SMP,  alhamdulillah saya diterima di SMA favorit di luar daerah tempat tinggal saya. Demi kelancaran proses belajar yang akan saya jalani selama SMA maka saya harus tinggal di kos. Tinggal di kos tentunya melakukan apa-apa serba sendiri dan mengatur segala urusan sebijaksana mungkin. Tidak sulit bagi saya untuk bertahan dalam kondisi tersebut, karena memang dari kecil sudah dilatih mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

Untuk setiap keputusan-keputusan besar yang akan saya ambil saya salalu meminta pendapat kepada orang tua. Tetapi beliau selalu mengatakan terserah asalkan bisa membagi waktu dan tidak mengganggu waktu belajar. Beliau selalu mengatakan seperti itu karena telah memliki kepercayaan penuh kepada saya. Disaat teman-teman saya mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya, sebenarnya saya sedikit merasa iri, tetapi dalam hati kecil saya, saya merasa sangat bangga, bukan berarti orang tua saya tidak perhatian kepada saya, tapi justru sebaliknya. Jujur, orang tua saya jarang sekali memberikan perhatian yang berlebihan dalam bentuk fisik, karena menurut saya hal itu hanya akan membuat kita menjadi manja. Mereka memberikan perhatian dan kasih sayangnya dalam bentuk yang lain. Salah satunya dengan sesuatu yang saya rasakan hingga saat ini, yakni kepercayaan yang selalu diberikan kepada saya. Hal-hal seperti itu malah justru lebih bermanfaat, bukan hanya untuk saat ini tetapi juga untuk bekal kita hidup dimasa mendatang. Dengan begitu, sikap tanggungjawab kita akan tumbuh dan akan mengakar jika sudah terbiasa dan tentunya akan diikuti oleh sikap-sikap positif yang lain. Banyak teman-teman saya yang masih harus didikte, bahkan untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Itu tandanya mereka belum bisa diamanahi kepercayaan yang lebih dari orang tuanya.

Semasa SMA saya lebih banyak mengisi hari-hari saya dengan aktif di organisasi. Waktu kelas X saya aktif di Paskibraka, sedangkan kelas XI saya aktif di OSIS dan Paskibraka sekaligus. Naik ke kelas XII saya mulai mengurangi aktivitas keorganisasian saya, karena untuk mempersiapkan UAN. Mulai SMA saya berusaha untuk menyelaraskan antara belajar dan kegiatan-kegiatan diluar sekolah. Karena unggul dalam hal akademik saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan softskill yang matang. Salah satunya dapat kita asah melalui kegiatan-kegiatan keorganisasian ataupun ekstrakurikuler. Bisa dibilang prestasi akademik saya di SMA tidak secemerlang waktu SMP, tetapi masih tetap diatas rata-rata. Dengan kondisi seperti ini orang tua saya tidak pernah menuntut saya harus begini begitu. Tetapi mereka selalu memberikan dukungan kapada saya untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Berkat dukungan dan semangat dari orangtua pulalah, akhirnya saya bisa masuk IPB separti saat ini melalui jalur USMI. Memang dari awal saya menginginkan untuk kuliah ditempat yang jauh dari orang tua. Bukan apa-apa, selain mencari yang lebih berkualitas tetapi juga untuk memperluas pengetahuan, mencari pengalaman lebih, serta mengasah kemandirian.

Nama : Rachmawati Nur Fitriana

Nrp : G84100041

Laskar : 26 (Laskar Munir)


Tentunya banyak sekali pihak-pihak yang berpengaruh dalam hidup saya sehingga saya bisa seperti sekarang ini. Saya masih memiliki semangat menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk meraih apa yang saya impikan. Mungkin memang sudah seharusnya remaja seusia saya memiliki semangat seperti itu. Tetapi realita diluar sana banyak remaja seusia saya bahkan anak-anak kecil yang sudah tidak mau merasakan indahnya dunia pendidikan. Salah satu orang yang bisa menyumbangkan semangat kepada saya adalah saudara sepupu saya.

Berperawakan sedang, itulah Muhammad Eko Saputra jaman dahulu, disaat dia masih mengenyam dunia pendidikan. Ia seorang yang ulet, cerdas, dan pekerja keras. Eko, ia kerap disapa merupakan anak tunggal di keluarganya. Tidak seperti anak tunggal lainnya yang biasanya  cenderung manja, dia adalah anak yang sangat mandiri. Misalnya, saat orangtuanya memberi uang saku dia selalu menyisihkannya untuk ditabung. Sehingga saat ia membutuhkan sesuatu, ia tak perlu repot-repot meminta ke orangtuanya, walaupun sebenarnya jika ia meminta pun mesti dikasih. Dari kecil ia juga selalu berprestasi di sekolahnya. Hingga akhirnya ia diterima di Fakultas Teknik jurusan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di kota Yogyakarta. Di tengah-tengah masa kuliah dia juga sempat merasakan hampir putus asa. Itulah salah satu masa-masa sulit yang harus ia lalui demi meraih impian-impiannya. Tetapi ia tak menyerah begitu saja sampai akhirnya gelar sarjana sudah ditangan. Baru saja lulus ia langsung bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup ternama di Jakarta. Penghasilan yang diterima pun tidak bisa dibilang sedikit. Dengan penghasilan itu, ia bisa menyisihkan hampir setengahnya untuk orangtuanya tiap bulan. Walaupun sebenarnya tanpa ia menyisihkan sebagian penghasilannya, orang tuanya tidak akan pernah merasa kekurangan, karena keduanya juga masih aktif bekerja sebagai seorang PNS. Namun, itu merupakan bagian dari pengabdiannya kepeda orang tua, yang telah menjadikan ia menjadi seperti sekarang ini.

Setelah menjadi orang yang sukses seperti sekarang ini, ia tak begitu saja melupakan orang-orang disekitarnya. Ia tak mau menjadi seperti kacang yang lupa kulitnya. Maka dari itu, ia sering membagi-bagikan sebagian rezeki yang diperoleh selain kepada orangtua juga kepada keponakan-keponakan dan saudara-saudara yang lainnya. Tak heran dalam keluarga besar kami, ia menjadi salah seorang inspirator bagi saudara-saudaranya, lebih-lebih bagi keponakan-keponakan yang masih kecil-kecil.